Selasa, 29 Maret 2011

TARIAN DAERAH MINAHASA CULTURE DANCE OF MINAHASA

­

Di zaman yang sudah terbilang modern ini, banyak kalangan mudah sudah meninggalkan ke aslian, ke khas-an dari daerahnya sendiri, banyak anak mudah yang melupakan sejarah, budaya, kehidupan sosial dan juga bahasa daerahnya, mungkin itu karena jiwa moderenisasi ataupun bisa jadi karena gengsi kalau harus menyanyikan ataupun hanya sekedar tau sejarah tentang tanah kelahirannya sendiri, serta malu berkomunikasi dengan bahasa daerahnya. Pelestarian budaya saat ini semakin terkikis oleh pengaruh globalisasi. Ironis skali jika kita mengabaikan sejarah tanah leluhur kita, siapa lagi yang meneruskan sejarah tanah kelahiran ke generasi selanjutnya, kalau bukan kita sendiri. Menyanyikan ataupun menari tarian daerah mungkin terbilang kaku untuk kalangan muda, mereka lebih asyik dengan lagu yang hitz di zamannya dan tarian yang lebih modern lagi, mungkin hanya bisa menari dengan irama lagu yang di bilang “ajep-ajep” ^_^. Clubbing choooii JJJ

Sebagai bukti cinta penulis kepada tanah leluhur KINATOUANKU MINAHASA penulis mencoba menjabarkan secara singkat dan jelas berbagai tarian beserta sastra tarian yang ada di MINAHASA. Dengan tujuan untuk memperbanyak lagi referensi tentang tarian Daerah yang ada di Minahasa.

Tarian Minahasa antara lain adalah :

1. Tari Maengket. Maengket adalah tari tradisional Minahasa dari Zaman dahulu kala dan sampai saat ini masi berkembang. Tarian ini sudah ada dan di kenal di tanah Minahasa sejak rakyat Minahasa mengenal pertanian, tarian ini dilakukan leluhur kita pada saat panen padi di lading dengan menggunakan gerakan-gerakan yang sederhana. Namun sekarang bentuk dan tarian Maengket telah berkembang tanpa meninggalkan keasliannya, terutama syair dan sastra lagunya. Tari Maengket adalah perpaduan antara gerak tari dan nyanyian yang saat ini kian popular bagi Tou Minahasa (Orang Minahasa), dari anak-anak hingga dewasa. Tarian Maengket selalu menjadi bagian dalam suatu rangkaian kegiatan yang dilaksanakan. Pelestarian budaya dalam hal ini adalah tarian Maengket dilakukan dengan membuka sanggar-sanggar tari,

2. Tari Lenso. Tari Lenso adalah tarian pergaulan muda-mudi rakyat Minahasa. Tarian ini menceritakan bagaimana seorang pemuda Minahasa mencari jodohnya atau calon istri. Dalam tarian ini, yang menjadi perantara adalah lenso atau selendang. Pada saat si pemuda mau melamar sang gadis dengan memberikan lenso pada sang gadis, apabila lenso atau selendang di buang berarti lamarannya di tolak, dan sebaliknya jika lenso diterima oleh sang gadis berarti cintanya diterima JJJJ.

3. Tari Katrili adalah salah satu tatri yang dibawa oleh Bangsa Spanyol pada waktu mereka dating dengan maksud untuk membeli hasil bumi yang ada ditanah Minahasa. Karena mendapatkan hasil yang banyak mereka menari-nari tarian Katrili. Lama kelamaan mereka mengundang seluruh rakyat Minahasa yang menjual hasil bumi mereka dengan menari bersama-sama sambil mengikuti irama musik dan aba-aba. Tarian ini bole juga dibawakan pada waktu acara pesta perkawinan di Tanah Minahasa. Sekembalinya Bangsa Spanyol, tarian Kantrili ini terus di gemari oleh Rakyat Minahasa. Tari Katrili termasuk tari modern yang sifatnya kerakyatan, setiap wisatawan nusantara maupun mancanegara yang berkunjung ke Sulawesi utara seringkali disuguhi dengan tarian ini.

4. Tari Kabasaran adalah tarian keprajuritan tradisional Minahasa, yang diangkat dari kata wasal yang berarti ayam jantan yang dipotong jenggernya agar supaya sang ayam menjadi lebih garang dalam bertarung. Tarian ini diiringi oleh suara tambur (gong kecil). Alat musik seperti gong, kolintang di sebut “ pa wasalen ” dan para penarinya disebut kawasalan yang berarti menari dengan meniru gerakan dua ayam jantan yang sedang bertarung. Menari dengan pakaian serba merah, mata melotot, wajah garang, sambil membawa pedang dan tombak tajam, membuat tarian kabasaran amat berbeda dengan tarian pada umumnya yang mengumbar senyum dan gerakan yang lemah gemulai.

Kata Kawasalan ini kemudian berkembang menjadi Kabasaran yang merupakan gabungan dua kata “Kawasal ni Sarian” “Kawasal” berarti menemani dan mengikuti gerak tari, sedangkan “Sarian” adalah pemimpin perang yang memimpin tari keprajuritan tradisional Minahasa. Perkembangan bahasa melayu Manado kemudian mengubah huruf “W” menjadi “B” sehingga kata itu berubah menjadi Kabasaran, yang sebenarnya tidak memiliki keterkaitan apa-apa dengan kata “besar” dalam bahasa Indonesia, namun akhirnya menjadi tarian penjemput bagi para Pembesar-pembesar.

Pada jaman dahulu para penari Kabasaran, hanya menjadi penari pada upacara-upacara adat. Namun, dalam kehidupan sehari-harinya mereka adalah petani. Apabila Minahasa berada dalam keadaan perang, maka para penari kabasaran menjadi Waranei (prajurit perang). Bentuk dasar dari tarian ini adalah sembilan jurus pedang (santi) atau sembilan jurus tombak (wengkouw) dengan langkah kuda-kuda 4/4 yang terdiri dari dua langkah ke kiri, dan dua langkah ke kanan.


Penari Kabasaran

Tiap penari kabasaran memiliki satu senjata tajam yang merupakan warisan dari leluhurnya yang terdahulu, karena penari kabasaran adalah penari yang turun temurun. Tarian ini umumnya terdiri dari tiga babak (sebenarnya ada lebih dari tiga, hanya saja, sekarang ini sudah sangat jarang dilakukan). Babak – babak tersebut terdiri dari :

1. Cakalele, yang berasal dari kata “saka” yang artinya berlaga, dan “lele” artinya berkejaran melompat – lompat. Babak ini dulunya ditarikan ketika para prajurit akan pergi berperang atau sekembalinya dari perang. Atau, babak ini menunjukkan keganasan berperang pada tamu agung, untuk memberikan rasa aman pada tamu agung yang datang berkunjung bahwa setan-pun takut mengganggu tamu agung dari pengawalan penari Kabasaran.

2. Babak kedua ini disebut Kumoyak, yang berasal dari kata “koyak” artinya, mengayunkan senjata tajam pedang atau tombak turun naik, maju mundur untuk menenteramkan diri dari rasa amarah ketika berperang. Kata “koyak” sendiri, bisa berarti membujuk roh dari pihak musuh atau lawan yang telah dibunuh dalam peperangan.

3. Lalaya’an. Pada bagian ini para penari menari bebas riang gembira melepaskan diri dari rasa berang seperti menari “Lionda” dengan tangan dipinggang dan tarian riang gembira lainnya. Keseluruhan tarian ini berdasarkan aba-aba atau komando pemimpin tari yang disebut “Tumu-tuzuk” (Tombulu) atau “Sarian” (Tonsea). Aba-aba diberikan dalam bahasa sub–etnik tombulu, Tonsea, Tondano, Totemboan, Ratahan, Tombatu dan Bantik. Pada tarian ini, seluruh penari harus berekspresi Garang tanpa boleh tersenyum, kecuali pada babak lalayaan, dimana para penari diperbolehkan mengumbar senyum riang.


Penari Kabasaran

Busana yang digunakan dalam tarian ini terbuat dari kain tenun Minahasa asli dan kain “Patola”, yaitu kain tenun merah dari Tombulu dan tidak terdapat di wilayah lainnya di Minahasa, seperti tertulis dalam buku Alfoersche Legenden yang di tulis oleh PN. Wilken tahun 1830, dimana kabasaran Minahasa telah memakai pakaian dasar celana dan kemeja merah, kemudian dililit ikatan kain tenun. Dalam hal ini tiap sub-etnis Minahasa punya cara khusus untuk mengikatkan kain tenun. Khusus Kabasaran dari Remboken dan Pareipei, mereka lebih menyukai busana perang dan bukannya busana upacara adat, yakni dengan memakai lumut-lumut pohon sebagai penyamaran berperang.

Sangat disayangkan bahwa sejak tahun 1950-an, kain tenun asli mulai menghilang sehingga kabasaran Minahasa akhirnya memakai kain tenun Kalimantan dan kain Timor karena bentuk, warna dan motifnya mirip kain tenun Minahasa seperti : Kokerah, Tinonton, Pasolongan, Bentenen. Topi Kabasaran asli terbuat dari kain ikat kepala yag diberi hiasan bulu ayam jantan, bulu burung Taong dan burung Cendrawasih. Ada juga hiasan tangkai bunga kano-kano atau tiwoho. Hiasan ornamen lainnya yang digunakan adalah “lei-lei” atau kalung-kalung leher, “wongkur” penutup betis kaki, “rerenge’en” atau giring-giring lonceng (bel yang terbuat dari kuningan).

Pada jaman penjajahan Belanda tempo dulu , ada peraturan daerah mengenai Kabasaran yang termuat dalam Staatsblad Nomor 104 B, tahun 1859 yang menetapkan bahwa

1. Upacara kematian para pemimpin negeri (Hukum Basar, Hukum Kadua, Hukum Tua) dan tokoh masyarakat, mendapat pengawalan Kabasaran. Juga pada perkawinan keluarga pemimpin negeri.

2. Pesta adat, upacara adat penjemputan tamu agung pejabat tinggi Belanda Residen, kontrolir oleh Kabasaran.

3. Kabasaran bertugas sebagai “Opas” (Polisi desa).

4. Seorang Kabasaran berdinas menjaga pos jaga untuk keamanan wilayah setahun 24 hari.


Kabasaran yang telah ditetapkan sebagai polisi desa dalam Staatsblad tersebut diatas, akhirnya dengan terpaksa oleh pihak belanda harus ditiadakan pada tahun 1901 karena saat itu ada 28 orang tawanan yang melarikan diri dari penjara Manado. Untuk menangkap kembali seluruh tawanan yang melarikan diri tersebut, pihak Belanda memerintahkan polisi desa, dalam hal ini Kabasaran, untuk menangkap para tawanan tersebut. Namun malang nasibnya para tawanan tersebut, karena mereka tidak ditangkap hidup-hidup melainkan semuanya tewas dicincang oleh Kabasaran. Para Kabasaran pada saat itu berada dalam organisasi desa dipimpin Hukum Tua. Tiap negeri atau kampung memiliki sepuluh orang Kabasaran salah satunya adalah pemimpin dari regu tersebut yang disebut “Pa’impulu’an ne Kabasaran”. Dengan status sebagai pegawai desa, mereka mendapat tunjangan berupa beras, gula putih, dan kain.

Sungguh mengerikan para Kabasaran pada waktu itu, karena meski hanya digaji dengan beras, gula putih, dan kain, mereka sanggup membantai 28 orang yang seluruhnya tewas dengan luka-luka yang mengerikan.

Kamis, 11 November 2010

Happy Island On Karimun Jawa



Surga Dunia di Karimun Jawa

karimun jawa is the virginal tropical paradise yeahh.. itulah sebutan yang pas untuk pulau indah ini. karimun jawa berlokasi tidak terlalu jauh dari pulau jawa menjadikan pulau ini mudah dikunjungi dan juga terjangkau. untuk temen2 yang pengen liburan ke karimun jawa gag usa hawatir, ada transport kapal feri, di butuhkan 8 jam tuk sampai ke karimun jawa, pastinya gag bakalan nyesel kalo temen2 dah nyampe d pulau ini,, segala penat,, rasa cape selama perjalanan bakal terobati dengan panorama pasir putih nan indah,,bak kristal di hamparan laut.. :)


Mendengar kata pantai dan laut, pasti yang terlintas di pikiran teman2 adalah Bali, tetapi tanpa kita sadari masih banyak pantai dan laut di Indonesia yang belum tersentuh oleh tangan-tangan usil manusia, dan masih terjaga kelestariannya.


Karimun Jawa, dengan keindahan pemandangan yang luar biasa, serta laut dan pantainya yang mengundang decak kagum, menyuguhkan wisata-wisata alam seru yang tidak kalah dari pulau dewata.

Karimun Jawa merupakan kawasan pantai yang terdiri dari 27 pulau kecil di selatan Pulau Jawa. Keindahan Karimun Jawa membuat kawasan ini dijadikan cagar alam atau taman nasional yang dilindungi oleh pemerintah. Banyak orang yang ingin menghilangkan kepenatan kehidupan kota dengan mengunjungi pantai-pantai yang indah, Karimun Jawa tentu saja bisa menjadi salah satu pilihan yang sangat pas. Wisata-wisata yang ditawarkan memiliki perbedaan yang khusus dari wisata pantai lainnya.

ini foto2 disana teman2:




SNORKLING D KARIMUN JAWA...KERENN

TENTANG ANIMASI

Animasi (animation) berasal dari perkataan latin yang membawa arti dihidupkan. Dengan kata lain, animasi merujuk kepada satu perbuatan atau proses menjadikan sesuatu agar kelihatan hidup. Secara keseluruhannya, animasi boleh didefinisikan sebagai satu proses menghidupkan atau atau memberikan gambaran bergerak kepada sesuatu yang statik agar kelihatan hidup dan dinamik.

Animasi merupakan suatu teknik yang banyak sekali dipakai dalam dunia film dewasa ini. Baik sebagai suatu kesatuan yang utuh, bagian dari suatu film, maupun bersatu dengan film live.

Pada video atau film, animasi memacu pada teknik dimana setiap frame dalam film dibuat secara terpisah. Frame bisa dihasilkan dari komputer, dari fotografi atau dari gambar lukisan. Ketika frame- frame tersebut digabungkan , maka terdapat ilusi perubahan gambar.

Dapat dikatakan bahwa animasi merupakan suatu media yang lahir dari dua konvesi atau disiplin, yaitu film dan gambar.

2.2.2 Sejarah dan Perkembangan Animasi

Animasi mulai berkembang sekitar abad ke-18 di Amerika. Pada saat itu teknik stop motion animation banyak yang menggunakannya. Teknik ini menggunakan serangkaian gambar diam/frame yang dirangkai menjadi satu dan menimbulkan kesan seolah-olah gambar tersebut bergerak. Teknik ini sangat sulit karena membutuhkan waktu dan biaya yang banyak. Karena untuk menciptakan animasi selama satu detik membutuhkan sebanyak 12-24 frame gambar diam. Bayangkan jika film animasi itu berdurasi satu jam bahkan lebih.

J. Stuart Blackton mungkin adalah orang Amerika pertama yang menjadi pionir dalam menggunakan teknik stop motion animation. Beberapa film yang diciptakannya dengan menggunakan teknik ini adalah The Enchanted Drawing (1900) dan Humorous Phases Of Funny Faces (1906).

Selanjutnya, setelah teknologi komputer berkembang mulai bemunculan animasi yang dibuat dengan teknologi komputer. animasi itu bermacam-macam jenisnya, ada yang 2 dimensi (2D) dan 3 dimensi (3D). Pada animasi 2 dimensi, figur animasi dibuat dan diedit di komputer dengan menggunakan 2D Bitmap Graphics atau 2D Vector Graphics, sedangkan 3D lebih kompleks lagi karena menambahkan berbagai efek di dalamnya seperti efek pencahayaan, air dan api, dan sebagainya.

Tokoh yang dianggap berjasa besar mengembangkan film animasi adalah Walt Disney. Walt Disney banyak menghasilkan karya fenomenal Mickey Mouse, Donald Duck, Snow Queen, dan lainnya. Walt Disney pulalah yang pertama membuat film animasi bersuara. Yakni, film Mickey Mouse yang diputar perdana di Steamboat Willie di Colony Theatre, New York pada tanggal 18 November 1928. Walt Disney juga yang pertama menciptakan animasi berwana yakni, Flower and Trees yang diproduksi Silly Symphonies di tahun 1932.

Film animasi merambah pula ke negara-negara Asia dan Jepang, kedua Negara tersebut telah mengembangkan film animasi sejak tahun 1913, dimana pada waktu itu dilakukan First Experiments in Animation oleh Shimokawa Bokoten, Koichi Junichi, dan Kitayama Seitaro pada tahun 1913. Selanjtnya, animasi di Jepang mengikuti perkembangan animasi yang ada di Amerika Serikat seperti dalam hal penambahan suara dan warna. Dalam perkembangan selanjutnya, kedua negara ini banyak bersaing dalam pembuatan animasinya yang menggunakan teknologi yang canggih dan kadang simpel.

Demikian asal mula perkembangan teknik film animasi yang terus berkembang dengan gaya dan cirri khas masing-masing negara tersebut


[1] Http://Tiyoq.multiply.com/journal/item/15/sekilas_tentang_animasi.

Sabtu, 21 Agustus 2010

pemimpin, pimpinan dan kepemimpinan


Pemimpin adalah orang yang bertanggungjawab dengan segala kesadarannya untuk menjaga amanah yang diberikan kepadanya, yang berani mengambil resiko untuk kepentingan umum meski dirinya sendiri harus menderita. Seorang pemimpin harus berani tegakan amar ma’ruf nahi munkar dan menerima untuk dikritik, seorang pemimpin tidak akan berani berkata saya capek saya mau istirahat ketika memang belum terasa keadilan dan kesejahteraan yang dirasakan mayarakat.

Dan pemimpin itu tidak akan menjual keadilan hanya untuk kepentingan dirinya sendiri, sehingga meski emas sebesar dunia ini diberikan ia tidak akan goyah untuk takut melakukan amar ma’ruf nahi munkar. kadang 2 tidak terikat struktural, informal.
Pemimpin dapat dibedakan dalam 2 arti :
- Pemimpin arti luas, seorang yang memimpin dengan cara mengambil inisiatif tingkah laku masyarakat secara mengarahkan, mengorganisir atau mengawasi usaha-usaha orang lain baik atas dasar prestasi, kekuasaan atau kedudukan.
- Pemimpin arti sempit, seseorang yang memimpin dengan alat-alat yang menyakinkan, sehingga para pengikut menerimanya secara suka rela.
TANGGUNG JAWAB PEMIMPIN :
Menentukan tujuan pelaksanaan kerja yang realitas.
Mendelegasikan wewenang apabila diperlukan
Menghilangkan hambatan untuk pelaksanaan pekerjaan yang efektif .
SIFAT_SIFAT SEORANG PEMIMPIN :
Keinginan untuk menerima tanggung jawab.
Kemampuan untuk bias perspective.
Kemampuan untuk bias bersifat objectif.
Kemampuan untuk bias menentukan prioritas.
Kemampuan untuk berkomunikasi.
Pimpinan adalah otoritas tertinggi dalam satu komunitas/kelompok,
dari segi hirarki organisasi, pimpinan biasanya lebih memiliki wewenang yang lebih tinggi, kata "pimpinan "dalam perusahaan mungkin lebih bisa diartikan sebagai direktur, komisaris atau sepadannya yang membawahi beberapa manajer.

TUGAS DARI SEORANG PIMPINAN :
- Pimpinan sebaiknya memahami sifat dan tingkah laku stafnya.
- Pimpinan sebaiknya membuat pekerjaan lebih menarik bagi seluruh staf.
- Pimpinan memahami bahwa teguran dan perintah sebagai alat komunikasi yang baik.
- Pimpinan sebaiknya membuat staf semakin dewasa.
- Pimpinan sebaiknya dapat bertindak sebagai konselor dan pelatih bagi stafnya.
- Pimpinan sebaiknya menghindari sikap yang dapat mematikan motivasi staf.
- Pimpinan sebaiknya bisa memberikan kritik yang membangun.
- Pimpinan sebaiknya memberikan kiat-kiat bagaimana staf dapat memotivasi diri.
- Pimpinan sebaiknya memberikan sikap dan perilaku teladan.
- Pimpinan sebaiknya juga berkenan melakukan melakukan hal-hal kecil yang membuat staf merasa bangga.

Kepemimpinan adalah kemampuan seseorang untuk mempengaruhi orang lain melalui komunikasi baik langsung maupun tidak langsung dengan meksud untuk menggerakan orang-orang tersebut agar penuh pengertian, kesadaran dan senag hati bersedia untuk megikuti kehendak pemimpinnya itu.. Kepemimpinan timbul karena adanya kepengikutan yang melakukan kerjasama dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditentukan bersama

Memiliki bakat kepemimpinan berarti mampu manguasai seni atau teknik untuk melakukan tindakan seperti teknik memberiakn perintah, memberikan teguran, memberikan anjuran, memberi pengertian, memperkuat identitas kelompok yang dipimpin, memudahkan pendatang atau karyawan baru untuk bias menyesuaikan diri, menanamkan rasa disiplin di kalangan bawahan, serta membasmi desas desus.

Kepemimpinan timbul karena adanya kepengikutan yang melakukan kerja sama dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditentukan bersama.

Kegiatan seorang pemimpin adalah membimbing, mengontrol, dan mengarahkan tindakan orang lain untuk menuju suatu sasaran tertentu.

WEWENANG KEPEMIMPINAN :
TOP-DOWN Authority :
Diperlukan apabila tingkat koordinasi dan pengawasan yang layak perlu dicapai.
BOTTOM-UP Authority :
Para bawahan memiliki respek pribadi terhadap pemimpin karena orang tersebut seorang wakil yang mewakili nilai-nilai yang mereka anggap penting.

GERAKAN SEPARATISME DI INDONESIA

“Menumpas Gerakan Separatisme Di Indonesia Dalam Payung
Bhineka Tunggal Ika”



A. KONSEPTUAL SEPARATISME

Setelah berjaya hampir setengah abad di bumi Nusantara pasca kemerdekaannya, nasionalisme Indonesia seakan-akan runtuh begitu saja tanpa sisa. Rasa kebanggaan sebagai sebuah kesatuan bangsa Indonesia tampaknya menghilang, tergerus oleh gelombang semangat kesukuan dan kedaerahan yang tengah menggelora di sejumlah wilayah. Ikatan kebangsaan Indonesia menjadi tidak begitu berarti, dan tenggelam oleh sentiment entis yang sangat kental. Muncul barbagai konflik benuansa suku, agama, dan ras (SARA) di Kalimantan, Maluku, dan Poso, hingga gerakan pemberontakan local radikal di Timor-Timur, Aceh, Maluku Selatan, dan Papua tampaknya menjadi bukti nyata bahwa rasa kebangasaan telah memudar dan sekaligus sebagai ancaman terhadap eksistensi Indonesia sebagai kesatuan Entitas dalam sebuah Negara Bangsa.

Sejak republik ini berdiri, para pendiri bangsa ini berusaha menanamkan jiwa kesatuan dalam kemajemukan yang lama dihancurkan oleh kolonial Belanda dengan politik adu domba untuk memecah-belah kesatuan dan persatuan, atau yang lebih kita kenal dengan politik devide el impera. Untuk itu para pendiri bangsa menggagas semboyan Bhinneka Tunggal Ika sebagaijiwa NKRI yang bercorak kemajemukan dan multikultural.
Dalam payung Bhinneka Tunggal Ika. NKRI pertama-tama dipahami sebagai satu kesatuan manusia, bukan sebagai satu kesatuan wilayah. Sehingga inti sentral dari NKRI adalah tiap manusia dengan kemajemukannya atau masyarakat pluralis di negeri ini
Wacana Separatisme cultural yang anti-Nasionalisme Indonesia menjadi fenomena sekaligus pertanyaan yang terus membayang, munginkah rasa nasionalisme Indonesia telah berakhir ?? Gerakan separatisme masih menjadi ancaman nyata bagi persatuan dan kesatuan bangsa. Dalam menghadapi ancaman gerakan separatisme ini, pemerintahan Indonesia yakin bahwa penyelesaian masalah ini hanya dapat dilakukan secara menyeluruh dan damai. Keberhasilan dalam penyelesaian masalah separatisme di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) menjadi pelajaran penting untuk menyelesaikan masalah separatisme di daerah lainnya.

2. KENYATAAN

Belakangan ini ada gejala dimana gerakan separatisme di Indonesia semakin meluas. Hal ini muncul dalam berbagai peristiwa yang bisa dikaitkan dengan gerakan separatisme. Misalnya pengibaran bendera Republik Maluku Selatan (RMS) di hadapan presiden beberapa waktu yang lalu dalam perayaan Hari Keluarga Nasional (Harganas) di Ambon. Peristiwa ini sekalipun tidak disuarakan secara terang-terangan sebagai bentuk perlawanan terhadap eksistensi NKRI, tetapi di dalamnya terindikasi ada niat-niat untuk kembali menunjukkan bahwa gerakan RMS masih ada dan eksis.
Peristiwa lain adalah penurunan bendera Merah Putih yang dilakukan orang tak dikenal yang terjadi di tiga daerah di Propinsi Nangroe Aceh Darussalam (NAD). Lagi-lagi peristiwa ini adalah salah satu penghinaan bagi negara. Sebab, bendera Merah Putih adalah simbol negara yang harus dijaga. Martabat bangsa termaktub dalam kibaran bendera Merah Putih. Belakangan ini bahkan ada indikasi untuk menghidupkan kembali gerakan Riau dan Papua Merdeka.
Berangkat dari kejadian di atas sudah lebih dari cukup untuk dijadikan sebagai bentuk peringatan bagi bangkitnya kembali gerakan separatisme. Apalagi jika dikaitkan dengan perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-62 Kemerdekaan Republik Indonesia. Di tengah-tengah kita membangun kembali semangat nasionalisme yang bertitiktolak pada kemerdekaan, ada sekelompok orang yang mencoba menciderainya.
Gerakan separatisme harus diwaspadai. Jika tidak bangsa ini akan terus mengalami pergolakan panjang. Setiap gejala bagi munculnya bibit-bibit gerakan separatisme harus diantisipasi dan harus serius ditanggapi. Insiden penyusupan anggota Republik Maluku Selatan (RMS) dalam bentuk tarian di hadapan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Ambon adalah salah satu di antaranya. Dilihat dari alurnya, insiden ini berlangsung secara terbuka dan dirancang secara sistematis. Pasti ada kekuatan intelektual di belakangnya.
Jelas, jika kita berkaca pada kejadian di Ambon tersebut, maka kita harus ekstra hati-hati dalam melihat berkembangnya gerakan separatisme. Pemerintah berikut aparat keamanan yang merasa terpuluk dan terpojokkan, harus pula berkaca diri. Barangkali dengan logika berpikir yang sederhana, tidak mungkin ada satu peristiwa besar jika tidak ada yang melatarbelakanginya.
Dalam memandang dan meresponi mencuatnya gerakan separatisme, maka selayaknya pemerintah harus bertindak tegas. Peluang jangan sampai terbuka lebar. Konstitusi negara yang mengamanatkan bahwa keutuhan NKRI di atas segalanya harus dijalankan secara konsekuen. Maka setiap gerakan yang mencoba menghancurkan eksistensi NKRI, harus berhadapan dengan pemerintah dan rakyat.
Tidak boleh ada satu gerakan atau organisasi apapun di negara ini yang keberadaannya bertentangan atau melawan bagi keutuhan NKRI. Jika ada, maka hukum harus ditimpakan kepadanya. Gerakan separatisme jelas merupakan kejahatan yang luar biasa. Gerakan ini sama sekali tidak menghargai sejarah bangsa ini yang dengan susah payah merebut dan mempertahankan kemerdekaannya.
Namun, penegakan supremasi hukum dan tindakan represif jelas bukan satu-satunya jalan untuk menumpaskan gerakan separatisme. Solusi-solusi lain perlu dicari. Jalur komunikasi dengan tokoh-tokoh yang ada di belakangnya mencuatnya gerakan ini, harus dilakukan dengan baik. Sebab diyakini munculnya gerakan ini mungkin ada kaitannya dengan ketidakpuasan masyarakat terhadap pemerintah.
Misalnya pemerintah dinilai amat lambat dalam memperbaiki kesejahteraan masyarakat. Kue pembangunan dirasakan tidak berjalan secara merata. Masyarakat di sejumlah wilayah merasakan adanya kesenjangan. Pendekatan perbaikan kesejahteraan layak dikedepankan. Kesalahan yang dilakukan selama ini harus diperbaiki secara nyata. Bukan lagi sebatas janji-janji belaka.

3. PERMASALAHAN

Berbagai pandangan tentang penyebab munculnya separatisme telah lama kita ketahui, dan para pengambil kebijakanpun sudah merumuskannya, dalam langkah-langkah aturan dan peraturan. Separatisme di Negara kita muncul karena bebagai factor, seperti factor ideology, ketidakadilan, kesejahteraan, kebijakan politik, penggunaan kekerasan yang melanggar HAM, dan berbagai hal lainnya yang kurang lebih sama. Untuk merespon hal-hal tersebut, pemerintah telah mengambil berbagai langkah strategis sebagai upaya untuk mengatasinya, yang terakhir adalah dengan pemberlakuan otonomi dan memberikan otonomi khusus bagi daerah yag dianggap sangat berat kondisinya, dan rawan terhadap keutuhan NKRI.

Meski demikian,kegiatan separatisme tetap tumbuh dan masih ada, bahkan semakin menunjukkan eksistensinya. Terlebih lagi diyakini adanya dukungan internasional baik langsung atau secara tidak langsung. Dari pandangan para pakar, persoalan separatisme di Indonesia dikenali sebagai separatisme yang berlatar belakang ideology, keadilan politik, dan ekonomi serta hadirnya kepentingan asing. Sehingga dalam melihat persoalan separatisme, kita tidak bisa melihat permasalahannya dari sisi separatisme saja. Tetapi lebih mendasar adalah kemampuan bangsa dalam membangun suatu Negara bangsa yang bisa memberi harapan kepada para warganya. Harapan tentang kehidupan yang lebih baik, harapan tentang keadilan yang lebih manusiawi dan berbagai harapan yang bisa digantungkan padanya.
4. ANALISIS

separatis yang terjadi di indonesia menurut saya faktor mendasar yang melatarbelakangi adalah faktor pendidikan. pertama, rakyat yang ingin memisahkan diri tidak terlepas dari minimnya pendidikan mereka untuk melihat suatu hal dengan bijaksana, sehingga masyarakat mudah ditunggangi oleh pihak yang berkepentingan untuk melepaskan diri dari indonesia. kedua, pendidikan masyarakat masih minim, sehingga mereka tidak memiliki keahlian untuk mengekplorasi sumber daya mereka, dan kemudian mereka cemburu dengan pendatang yang mampu memberdayakan kekayaan alam di daerah tersebut. semoga indonesia jaya.


Selain itu penyebab munculnya embrio dari gerakan separatisme tersebut karena ketidakpuasan elemen masyarakat di daerah terhadap kebijakan Pemerintah Pusat yang dinilai tidak adil. Penelitian yang dilakukan oleh Lembaga ilmu pengetahuan Indonesia menunjukan bahwa akar permasalahan terjadinya konflik di Papua adalah karena adanya marginalisasi dan tindakan diskriminatif dalam pembangunan ekonomi terhadap orang asli Papua, kurangnya pembangunan terutama di bidang pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi rakyat, paradigma sejarah bergabungnya Papua ke Indonesia, dan belum adanya rekonsiliasi atas kekerasan yang terjadi di masa lalu. Oleh karena itu, langkah yang diperlukan untuk menyelesaikannya harus komprehensif dan menyeluruh dalam semua bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan.


Banyak daerah yang merasa mampu untuk menjadi negara yang lebih baik dari NKRI. Menyedihkan, karena pemikiran mereka itu didasari oleh rasisme dan chauvinisme, merasa bahwa etnisnya adalah yang terbaik dari seluruh etnis di Indonesia. Orang-orang yg berpikiran seperti ini terlalu banyak dipengaruhi oleh dongeng dan mitos, serta tidak bisa melihat sebuah permasalahan secara bijaksana, hanya bisa menyalahkan orang lain.


5. SOLUSI

Karena akar persoalan separatisme adalah ketidakadilan ekonomi yang dirasakan sebagian besar masyarakat, maka jelas bahwa upaya untuk menciptakan kesejahteraan dan keadilan ekonomi bagi seluruh rakyat, sebagaimana yang disampaikan oleh wapres Jusuh Kalla, adalah sangat penting. Persoalannya, bagaimana caranya agar upaya tersebut bisa terwujud ? Bisakah kita berharap pada system ekonomi kapitalis yang saat ini diterapkan oleh pemerintah sendiri, bahkan dengan model yang sangat liberal? Tentu tidak. Pasalnya, system ekonomi kapitalis inilah yang justru menjadi akar dari seluruh ketidakadilan yang dirasakan masyarakat, khususnya secara ekonomi
untuk menciptakan kesejahteraan dan keadilan ekonomi rakyat secara menyeluruh demi mencegah munculnya gerakan-gerakan separatis hanyalah sebuah harapan kosong jika Pemerintah sendiri malah melanggengkan sistem ekonomi kapitalis yang terbukti hanya menguntungkan segelintir orang, bahkan pihak asing, dan sebaliknya menyengsarakan mayoritas rakyat sendiri. Kesejahteraan dan keadilan ekonomi tidak ada lagi
Selain masalah kesejahteraan dan ketidakadilan ekonomi ini, jika Pemerintah konsisten dengan keutuhan NKRI, jelas Pemerintah harus mewaspadai setiap keterlibatan asing, terutama yang memanfaatkan gerakan-gerakan separatis di Tanah Air. Kasus lepasnya Timor Timur yang antara lain di-support oleh Australia harus menjadi pelajaran berharga. Pemerintah harus tegas terhadap berbagai manuver pihak asing, baik Amerika, Australia, dll yang memang telah lama mengincar Indonesia. Jangan sampai negeri ini terpecah-belah karena akan semakin memperlemah posisi Indonesia yang mayoritas penduduknya Muslim. Jika tidak, negara ini akan makin masuk dalam cengkeraman penjajahan asing.
Adalagi solusi bagi Negara Indonesia dalam menghindari adanya Separatisme adalah :
Pertama, peningkatan kesejahteraan rakyat secara adil merupakan kunci pokok dalam membungkam gerakan separatis. Dalam sejarahnya, munculnya berbagai gerakan yang dicap sebagai separatis merupakan dampak dari pembangunan yang tidak adil dengan ketimpangan kesejahteraan. Ketika hal tersebut dikaitkan dengan atribut etnis, kedaerahan, bahkan agama, hal tersebut tampaknya menjadi senjata yang ampuh bagi separatis dalam melakukan doktrinasi terhadap masyarakat umum untuk menentang negara. Namun, ketika kesejahteraan tersebut dapat terpenuhi, maka akan sulit bagi aktor-aktor gerakan separatis untuk mencari celah dalam mendapatkan legitimasi dari rakyat untuk perlawanannya melawan negara. Oleh karenanya, gerakan-gerakan perlawanan separatisme itu janganlah sekedar dilihat secara hitam-putih sebagai bentuk anti-nasionalisme. Karena, mungkin saja, gerakan tersebut merupakan pengingatan bagi pemerintah atas ketidakadilan pembangunan kesejahteraan yang dilakukan selama ini.
Kedua, reorientasi pembangunan kebangsaan dan nasionalisme Indonesia merupakan hal penting dalam penjagaan keutuhan nasional sebagai upaya meredupkan isu-isu separatisme. Langkah yang mungkin bisa dilakukan adalah dengan memanfaatkan institusi pendidikan sebagai pembentukan kader-kader bangsa yang militan. Negara memiliki tanggung jawab untuk menjaga melalui agenda pendidikan kewarganegaraan (civic education). Pendidikan kewarganegaraan ini merupakan upaya mempersiapkan generasi masa depan untuk menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara secara lebih baik (Azra, 2002: ix). Pendidikan kewarganegaraan ini bukan sekedar agenda doktrinatif dari negara kepada rakyat, melainkan sebuah upaya enkulturisasi nasionalisme, yang bersumber dari budaya majemuk yang dimiliki bangsa.



GERAKAN SEPARATISME DI INDONESIA

“Menumpas Gerakan Separatisme Di Indonesia Dalam Payung
Bhineka Tunggal Ika”



A. KONSEPTUAL SEPARATISME

Setelah berjaya hampir setengah abad di bumi Nusantara pasca kemerdekaannya, nasionalisme Indonesia seakan-akan runtuh begitu saja tanpa sisa. Rasa kebanggaan sebagai sebuah kesatuan bangsa Indonesia tampaknya menghilang, tergerus oleh gelombang semangat kesukuan dan kedaerahan yang tengah menggelora di sejumlah wilayah. Ikatan kebangsaan Indonesia menjadi tidak begitu berarti, dan tenggelam oleh sentiment entis yang sangat kental. Muncul barbagai konflik benuansa suku, agama, dan ras (SARA) di Kalimantan, Maluku, dan Poso, hingga gerakan pemberontakan local radikal di Timor-Timur, Aceh, Maluku Selatan, dan Papua tampaknya menjadi bukti nyata bahwa rasa kebangasaan telah memudar dan sekaligus sebagai ancaman terhadap eksistensi Indonesia sebagai kesatuan Entitas dalam sebuah Negara Bangsa.

Sejak republik ini berdiri, para pendiri bangsa ini berusaha menanamkan jiwa kesatuan dalam kemajemukan yang lama dihancurkan oleh kolonial Belanda dengan politik adu domba untuk memecah-belah kesatuan dan persatuan, atau yang lebih kita kenal dengan politik devide el impera. Untuk itu para pendiri bangsa menggagas semboyan Bhinneka Tunggal Ika sebagaijiwa NKRI yang bercorak kemajemukan dan multikultural.
Dalam payung Bhinneka Tunggal Ika. NKRI pertama-tama dipahami sebagai satu kesatuan manusia, bukan sebagai satu kesatuan wilayah. Sehingga inti sentral dari NKRI adalah tiap manusia dengan kemajemukannya atau masyarakat pluralis di negeri ini
Wacana Separatisme cultural yang anti-Nasionalisme Indonesia menjadi fenomena sekaligus pertanyaan yang terus membayang, munginkah rasa nasionalisme Indonesia telah berakhir ?? Gerakan separatisme masih menjadi ancaman nyata bagi persatuan dan kesatuan bangsa. Dalam menghadapi ancaman gerakan separatisme ini, pemerintahan Indonesia yakin bahwa penyelesaian masalah ini hanya dapat dilakukan secara menyeluruh dan damai. Keberhasilan dalam penyelesaian masalah separatisme di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) menjadi pelajaran penting untuk menyelesaikan masalah separatisme di daerah lainnya.

2. KENYATAAN

Belakangan ini ada gejala dimana gerakan separatisme di Indonesia semakin meluas. Hal ini muncul dalam berbagai peristiwa yang bisa dikaitkan dengan gerakan separatisme. Misalnya pengibaran bendera Republik Maluku Selatan (RMS) di hadapan presiden beberapa waktu yang lalu dalam perayaan Hari Keluarga Nasional (Harganas) di Ambon. Peristiwa ini sekalipun tidak disuarakan secara terang-terangan sebagai bentuk perlawanan terhadap eksistensi NKRI, tetapi di dalamnya terindikasi ada niat-niat untuk kembali menunjukkan bahwa gerakan RMS masih ada dan eksis.
Peristiwa lain adalah penurunan bendera Merah Putih yang dilakukan orang tak dikenal yang terjadi di tiga daerah di Propinsi Nangroe Aceh Darussalam (NAD). Lagi-lagi peristiwa ini adalah salah satu penghinaan bagi negara. Sebab, bendera Merah Putih adalah simbol negara yang harus dijaga. Martabat bangsa termaktub dalam kibaran bendera Merah Putih. Belakangan ini bahkan ada indikasi untuk menghidupkan kembali gerakan Riau dan Papua Merdeka.
Berangkat dari kejadian di atas sudah lebih dari cukup untuk dijadikan sebagai bentuk peringatan bagi bangkitnya kembali gerakan separatisme. Apalagi jika dikaitkan dengan perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-62 Kemerdekaan Republik Indonesia. Di tengah-tengah kita membangun kembali semangat nasionalisme yang bertitiktolak pada kemerdekaan, ada sekelompok orang yang mencoba menciderainya.
Gerakan separatisme harus diwaspadai. Jika tidak bangsa ini akan terus mengalami pergolakan panjang. Setiap gejala bagi munculnya bibit-bibit gerakan separatisme harus diantisipasi dan harus serius ditanggapi. Insiden penyusupan anggota Republik Maluku Selatan (RMS) dalam bentuk tarian di hadapan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Ambon adalah salah satu di antaranya. Dilihat dari alurnya, insiden ini berlangsung secara terbuka dan dirancang secara sistematis. Pasti ada kekuatan intelektual di belakangnya.
Jelas, jika kita berkaca pada kejadian di Ambon tersebut, maka kita harus ekstra hati-hati dalam melihat berkembangnya gerakan separatisme. Pemerintah berikut aparat keamanan yang merasa terpuluk dan terpojokkan, harus pula berkaca diri. Barangkali dengan logika berpikir yang sederhana, tidak mungkin ada satu peristiwa besar jika tidak ada yang melatarbelakanginya.
Dalam memandang dan meresponi mencuatnya gerakan separatisme, maka selayaknya pemerintah harus bertindak tegas. Peluang jangan sampai terbuka lebar. Konstitusi negara yang mengamanatkan bahwa keutuhan NKRI di atas segalanya harus dijalankan secara konsekuen. Maka setiap gerakan yang mencoba menghancurkan eksistensi NKRI, harus berhadapan dengan pemerintah dan rakyat.
Tidak boleh ada satu gerakan atau organisasi apapun di negara ini yang keberadaannya bertentangan atau melawan bagi keutuhan NKRI. Jika ada, maka hukum harus ditimpakan kepadanya. Gerakan separatisme jelas merupakan kejahatan yang luar biasa. Gerakan ini sama sekali tidak menghargai sejarah bangsa ini yang dengan susah payah merebut dan mempertahankan kemerdekaannya.
Namun, penegakan supremasi hukum dan tindakan represif jelas bukan satu-satunya jalan untuk menumpaskan gerakan separatisme. Solusi-solusi lain perlu dicari. Jalur komunikasi dengan tokoh-tokoh yang ada di belakangnya mencuatnya gerakan ini, harus dilakukan dengan baik. Sebab diyakini munculnya gerakan ini mungkin ada kaitannya dengan ketidakpuasan masyarakat terhadap pemerintah.
Misalnya pemerintah dinilai amat lambat dalam memperbaiki kesejahteraan masyarakat. Kue pembangunan dirasakan tidak berjalan secara merata. Masyarakat di sejumlah wilayah merasakan adanya kesenjangan. Pendekatan perbaikan kesejahteraan layak dikedepankan. Kesalahan yang dilakukan selama ini harus diperbaiki secara nyata. Bukan lagi sebatas janji-janji belaka.

3. PERMASALAHAN

Berbagai pandangan tentang penyebab munculnya separatisme telah lama kita ketahui, dan para pengambil kebijakanpun sudah merumuskannya, dalam langkah-langkah aturan dan peraturan. Separatisme di Negara kita muncul karena bebagai factor, seperti factor ideology, ketidakadilan, kesejahteraan, kebijakan politik, penggunaan kekerasan yang melanggar HAM, dan berbagai hal lainnya yang kurang lebih sama. Untuk merespon hal-hal tersebut, pemerintah telah mengambil berbagai langkah strategis sebagai upaya untuk mengatasinya, yang terakhir adalah dengan pemberlakuan otonomi dan memberikan otonomi khusus bagi daerah yag dianggap sangat berat kondisinya, dan rawan terhadap keutuhan NKRI.

Meski demikian,kegiatan separatisme tetap tumbuh dan masih ada, bahkan semakin menunjukkan eksistensinya. Terlebih lagi diyakini adanya dukungan internasional baik langsung atau secara tidak langsung. Dari pandangan para pakar, persoalan separatisme di Indonesia dikenali sebagai separatisme yang berlatar belakang ideology, keadilan politik, dan ekonomi serta hadirnya kepentingan asing. Sehingga dalam melihat persoalan separatisme, kita tidak bisa melihat permasalahannya dari sisi separatisme saja. Tetapi lebih mendasar adalah kemampuan bangsa dalam membangun suatu Negara bangsa yang bisa memberi harapan kepada para warganya. Harapan tentang kehidupan yang lebih baik, harapan tentang keadilan yang lebih manusiawi dan berbagai harapan yang bisa digantungkan padanya.
4. ANALISIS

separatis yang terjadi di indonesia menurut saya faktor mendasar yang melatarbelakangi adalah faktor pendidikan. pertama, rakyat yang ingin memisahkan diri tidak terlepas dari minimnya pendidikan mereka untuk melihat suatu hal dengan bijaksana, sehingga masyarakat mudah ditunggangi oleh pihak yang berkepentingan untuk melepaskan diri dari indonesia. kedua, pendidikan masyarakat masih minim, sehingga mereka tidak memiliki keahlian untuk mengekplorasi sumber daya mereka, dan kemudian mereka cemburu dengan pendatang yang mampu memberdayakan kekayaan alam di daerah tersebut. semoga indonesia jaya.


Selain itu penyebab munculnya embrio dari gerakan separatisme tersebut karena ketidakpuasan elemen masyarakat di daerah terhadap kebijakan Pemerintah Pusat yang dinilai tidak adil. Penelitian yang dilakukan oleh Lembaga ilmu pengetahuan Indonesia menunjukan bahwa akar permasalahan terjadinya konflik di Papua adalah karena adanya marginalisasi dan tindakan diskriminatif dalam pembangunan ekonomi terhadap orang asli Papua, kurangnya pembangunan terutama di bidang pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi rakyat, paradigma sejarah bergabungnya Papua ke Indonesia, dan belum adanya rekonsiliasi atas kekerasan yang terjadi di masa lalu. Oleh karena itu, langkah yang diperlukan untuk menyelesaikannya harus komprehensif dan menyeluruh dalam semua bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan.


Banyak daerah yang merasa mampu untuk menjadi negara yang lebih baik dari NKRI. Menyedihkan, karena pemikiran mereka itu didasari oleh rasisme dan chauvinisme, merasa bahwa etnisnya adalah yang terbaik dari seluruh etnis di Indonesia. Orang-orang yg berpikiran seperti ini terlalu banyak dipengaruhi oleh dongeng dan mitos, serta tidak bisa melihat sebuah permasalahan secara bijaksana, hanya bisa menyalahkan orang lain.


5. SOLUSI

Karena akar persoalan separatisme adalah ketidakadilan ekonomi yang dirasakan sebagian besar masyarakat, maka jelas bahwa upaya untuk menciptakan kesejahteraan dan keadilan ekonomi bagi seluruh rakyat, sebagaimana yang disampaikan oleh wapres Jusuh Kalla, adalah sangat penting. Persoalannya, bagaimana caranya agar upaya tersebut bisa terwujud ? Bisakah kita berharap pada system ekonomi kapitalis yang saat ini diterapkan oleh pemerintah sendiri, bahkan dengan model yang sangat liberal? Tentu tidak. Pasalnya, system ekonomi kapitalis inilah yang justru menjadi akar dari seluruh ketidakadilan yang dirasakan masyarakat, khususnya secara ekonomi
untuk menciptakan kesejahteraan dan keadilan ekonomi rakyat secara menyeluruh demi mencegah munculnya gerakan-gerakan separatis hanyalah sebuah harapan kosong jika Pemerintah sendiri malah melanggengkan sistem ekonomi kapitalis yang terbukti hanya menguntungkan segelintir orang, bahkan pihak asing, dan sebaliknya menyengsarakan mayoritas rakyat sendiri. Kesejahteraan dan keadilan ekonomi tidak ada lagi
Selain masalah kesejahteraan dan ketidakadilan ekonomi ini, jika Pemerintah konsisten dengan keutuhan NKRI, jelas Pemerintah harus mewaspadai setiap keterlibatan asing, terutama yang memanfaatkan gerakan-gerakan separatis di Tanah Air. Kasus lepasnya Timor Timur yang antara lain di-support oleh Australia harus menjadi pelajaran berharga. Pemerintah harus tegas terhadap berbagai manuver pihak asing, baik Amerika, Australia, dll yang memang telah lama mengincar Indonesia. Jangan sampai negeri ini terpecah-belah karena akan semakin memperlemah posisi Indonesia yang mayoritas penduduknya Muslim. Jika tidak, negara ini akan makin masuk dalam cengkeraman penjajahan asing.
Adalagi solusi bagi Negara Indonesia dalam menghindari adanya Separatisme adalah :
Pertama, peningkatan kesejahteraan rakyat secara adil merupakan kunci pokok dalam membungkam gerakan separatis. Dalam sejarahnya, munculnya berbagai gerakan yang dicap sebagai separatis merupakan dampak dari pembangunan yang tidak adil dengan ketimpangan kesejahteraan. Ketika hal tersebut dikaitkan dengan atribut etnis, kedaerahan, bahkan agama, hal tersebut tampaknya menjadi senjata yang ampuh bagi separatis dalam melakukan doktrinasi terhadap masyarakat umum untuk menentang negara. Namun, ketika kesejahteraan tersebut dapat terpenuhi, maka akan sulit bagi aktor-aktor gerakan separatis untuk mencari celah dalam mendapatkan legitimasi dari rakyat untuk perlawanannya melawan negara. Oleh karenanya, gerakan-gerakan perlawanan separatisme itu janganlah sekedar dilihat secara hitam-putih sebagai bentuk anti-nasionalisme. Karena, mungkin saja, gerakan tersebut merupakan pengingatan bagi pemerintah atas ketidakadilan pembangunan kesejahteraan yang dilakukan selama ini.
Kedua, reorientasi pembangunan kebangsaan dan nasionalisme Indonesia merupakan hal penting dalam penjagaan keutuhan nasional sebagai upaya meredupkan isu-isu separatisme. Langkah yang mungkin bisa dilakukan adalah dengan memanfaatkan institusi pendidikan sebagai pembentukan kader-kader bangsa yang militan. Negara memiliki tanggung jawab untuk menjaga melalui agenda pendidikan kewarganegaraan (civic education). Pendidikan kewarganegaraan ini merupakan upaya mempersiapkan generasi masa depan untuk menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara secara lebih baik (Azra, 2002: ix). Pendidikan kewarganegaraan ini bukan sekedar agenda doktrinatif dari negara kepada rakyat, melainkan sebuah upaya enkulturisasi nasionalisme, yang bersumber dari budaya majemuk yang dimiliki bangsa.